Syekh Haji Muhammad Waly Al-Khalidy : Sosok al-Mujaddid dan Mursyid-I






Pada waktu kecil ia mendapat pendidikan dari orang tuanya sendiri, ia mempelajari pokok-pokok ajaran islam. Pada tahun 1926, dia dimasukkan orang tuanya pada sekolah desa (Volk School) di Kuta Trieng. Selanjutnya ia pindah ke sebuah dayah yamg bernama ”Al-Jamiatul Khairiah”. Setelah dua tahun belajar di sini ia melanjutkan pelajarannya ke dayah Bustanul Huda di Blang Pidie. Di sini beliau mendalami ilmu bahasa Arab,Tasawuf, Tafsir dan lain-lain. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Aceh Selatan beliau melanjutkan pendidikan di beberapa dayah terkenal di Aceh Besar. Di sini beliau lebih mendalami ilmu Al-Qu’ran.[2]

            Pada akhir tahun 1934 Syekh Muda Waly di kirim ke Padang untuk belajar di beberapa pusat pendidikan. Di sini disamping menuntut ilmu, beliau juga berusaha melakukan dakwah Islamiah dan pengajian-pengajian dari mesjid ke mesjid dan sering mengadakan perdebatan-perdebatan dengan ulama-ulama setempat untuk mempertajam ilmu yang beliau miliki. Usaha yang beliau lakukan mendapat sambutan yang baik dari masyarakat setempat. Sejak saat itu nama beliau mulai populer
 dengan sebutan Teungku Muda Waly.[3]



Pada tahun 1939 beliau melaksanakan ibadah haji dan di sana berkesempatan pula belajar pada seorang ulama besar Majidil Haram yaitu pada Syekh Ali Maliki dan mendapatkan ijazah dari ulama tersebut. Beliau setelah kembali dari menunaikan ibadah haji, ia mengambil Tarekat Naqsyabandiyah pada seorang ulama besar tarekat, yaitu pada syekh Haji Abdul Ghani al-kamfari di Batu Bersurat, Kampar Sumatera Barat. Setelah beberapa tahun tahun mengembangkan tarekat ini di sebuah pesantren yang ada di Sumatera Barat pada akhir tahun 1939, beliau kembali ke Aceh selatan. Di tempat inilah beliau mendirikan sebuah dayah yang sekarang ini dikenal dengan dayah (Pesantren Darussalam), beliau mengembangkan Tarekat Naqsyabandiyah di pesantren tersebut. Adapun pelaksanaan tarekat tersebut dalam bentuk: pertama disebut dengan suluk. Yang kedua disebut dengan tawajjuh. Kegiatan amalan suluk dan tawajjuh masih berlangsung sampai sekarang ini. Pada tahun 1961 tepatnya pada tanggal 20 Maret 1961 (11 Syawal 1318 H) Syekh Haji Muhammad Waly Al-Khalidi meninggal dunia.[4]



[1] Muhibbudin Waly, Maulana Syeikh Haji Muhammad Waly Al-Khidi, cet. I, (Jakarta: Intermasa, 1997), h. 53.
                [2] Ibid, h. 58.
[3] Muhibbudin Waly , Ayahhanda Kami Maulana Syekh Muhammad Waly Al-Khidi…, h. 57-64
                [4] Ibid, h. 138.

Subscribe to receive free email updates: