Kitab Mukaasyafatul Qulub (VI): Kemenangan Nafsu dan Permusuhan Syetan

Bagi orang yang berakal, seharusnya mengendalikan kecenderungan hawa nafsuna dengan menahan lapar. Karena lapar merupakan pengendalian terhaddap musuh Allah, sedangkan menyuburkan setan adalah memperturutkan kesenangan hawa nafsu, makan dan minum.

Nabi saw. Bersabda: “Sesungguhnya syetan berada dalam diri anak adam berjalan bersama peredaran darah, maka persempitlah perjalanannya dengan cara lapar. “ sesungguhnya manusia yang lebih dekat kepada Allah swt. kelak pada hari kiamat ialah orang yang lebih lama dalam menahan lapar dan haus. Dan dosa yang paling besar yang akan merusak dan menghancurkan anak Adam adalah keinginan nafsu perut. Sebab keinginan nafsu perut, Adam dan Hawa diusir dari perkampungan yang abadi, yaitu syurga pada perkampungan yang hina dan miskin, yaitu Dunia. Ketika Tuhan melarang mereka untuk memakan buah syajarah, keduanya terkalahkan oleh keinginan nafsu perutnya dna tetap memakan buah itu. Akhirnya aurat keduanya menjadi tampak.

Pada hakikatnya, perut merupakan sumber dari segala keinginan nafsu.
Orang hali hikmah berkata : “ Barangsiapa yang dikuasai hawa nafsunya, maka dia menjadi tertawan oleh kecintaan terhadap keinginan-keinginan dan terkungkung dalam kesalahan-kesalahannya. Dan hawa nafsu itu akan menghalangi hatinya untuk dapat menerima faedah.”

Barangsiapa yang menyirami anggota-anggota tubuhnya dengan memperturutkan kesenangan-kesenangan nafsu, berarti dia menanam pohon penyesalan di dalam hatinya.
Allah swt. Menciptakan mahluk dalam tiga kategori. Dia menciptakan malaikat dan menyusun didalam diri mereka akal, tanpa dibekali nafsu. Dia menciptakan binatang dan menyusun di dalamnya keinginan (nafsu), tanpa dibekali dengan akal. Sementara manusia lebih baik, dia dibekali akal juga dilengkapi dengan keinginan nafsu. Barangsiapa yang akalnya bisa mengalahkan keinginan hawa nafsunya, maka dia kan mencapai tataran yan lebih baik dari malaikat.

Ibrahim Al-Khawas berkata: “ Suatu ketika aku berada di gunung Lukam, saat aku melihat sebuah Delima, aku menjadi menginginkannya, maka aku mengambil satu dan membelahnya, namun rasanya masam, dan aku lalu meninggalkannya.” Selanjutnya aku melihat seoran laki-laki terlempar yang dikerumuni oleh lebah-lebah. Aku mengucapkan salam kepadanya: “ Assalamu alaika.” Dia menjawab : “ Wa alaikas salam, ya Ibrahim.” Aku berkata : “ Aku perhatikan anda mempunyai urusan dengan Allah, hendaklah anda momohon kepadanya agar Dia menyelamatkan anda dari serangan lebah-lebah ini.” Laki-laki itu berkata: “Aku melihat anda mempunyai kedudukan di sisi Allah, maka hendaklah kiranya Anda meminta kepada-Nya agar Ia Menyelamatkan Anda dari keinginan terhadap buah delima. Karena delima orang menjadi sakit di Dunia, sedangkan sengatan lebah hanya terletak dan mengenai tubuh, sedangkan sengatan hawa nafsu , mengenai hati.” Kemudian aku berlalu pergi meninggalkannya.
Karena keinginan nafsu, seorang raja menjadi diperbudak olehnya, sementara karena kesabaran membuat hamba menjadi raja. Tidaklah Anda tahu kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha? Nabi Yusuf benar-benar menjadi raja di Mesir berkat kesabarannya, sementara Zulaikha menjadi orang yang hinda dina, miskin, dan buta karena terseret oleh keinginan hawa nafsunya. Dia tidak memiliki kesabaran dalam menghadapi cintanya kepada Nabi Yusuf as.

Abu Hasan Ar-Razi bercerita, bahwa ia bermimpi melihat Ayahnya setelah dua tahun dari kematiannya. Dalam mimpinya ia melihat ayanya memakai baju dari Aspal. Lalu Ia bertanya : “ Wahai Ayah, mengapa aku melihat Anda sebagai ahli neraka.” Sang Ayah menjawab, waspadalah Anda dari tipu daya nafsu.” Sebagaimna terungkap dalah Syair berikut ini :

“Aku diuji dengan empat hal yan kesemuanya membebaniku begitu berat dan mencelakakan aku. Yaitu Iblis, dunia, jiwa dan hawa nafsuku. Bagaimana keluar daripadanya, karena semuanya adalah musuhku. Aku melihat bahwa nafsu selalu mengajak dan membisikkan kecendrungannya di dalam kegelapan syahwat dan pendapat.”

Hatim Al-Hasan berkata: “Nafsuku begitu ulet dan tangguh, ilmuku adalah pedangku, dosaku adalah kerugianku, setan adalah musuhku dan aku adalah orang yang mengkhianati diri sendiri.”

Seorang Ahli ma’rifat menceritakan bahwa Hatim menyatakan sesungguhnya jihad itu ada tiga macam, yaitu : pertama, Jihad dalam menghadapi orang kafir. Ini merupakan jihad lahiriah, sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah swt. : “ Mereka berjihad di jalan Allah.” (QS. Al-Maidah : 54). Kedua, Jihad terhadap orang yan batil, dengan jalan memberikan pengertian dan menyertainya dengan argumentasi (hujjah). Sebagaimana yang dijelaskan daam fimran Allah swt. : “Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl : 125). Ketiga, Jihad melawan hawa nafsu yang selalu memerintahkan untuk melakukan kejahatan. Allah swt. Berfirman : “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami.” (QS. Al-Ankabut : 69)

Nabi Muhammad saw. Bersabda : “Jihad yang paling utama adalah jihad melawan hawa nafsu.” Para sahabat, ridhwanullahi ‘alaihim ketika pulang dari jihad melawan orang-orang kafir, mereka berkata: “ Kita telah kembali dari perang kecil menuju pada perang yang lebih besar.” Mereka menyatakan bahwa jihad menghadapi hawa nafsu dan syetan sebagai jihad yang besar. Karena jihad melawan orang-orang dalam medan pertempuran, hanya terjadi pada waktu tertentu saja, dan musuh yang dihadapi  juga dapat terlihat dan dapat diketahui dengan jelas. Tetapi berperang melawan setan dan hawa nafsu, berarti mereka berperang melawan musuh yang tak dapat dilihat dan medannya pun tak terbatas. Dengan demikian berperang melawan musuh yang dapat dilihat dengan jelas tentu lebih mudah daripada menghadapi musuh yang tidak dapat dilihat.
Disamping itu, setan memiliki pembantu di dalam diri Anda, yaitu hawa nafsu, sedangkan orang kafir yang anda hadapi tidak memiliki pembantu di dalam diri Anda. Oleh sebab itu berperang melawan hawa nafsu merupakan perang yang spektakuler.

Ketika anda dpat membunuh dan mengalahkan orang kafir, berarti Anda meraih kemenangan dan mendapatkan harta rampasan perang. Dan jika orang kafir dapat membunuh Anda, maka Anda mati syahid dan mendapatkan balasan syurga. Tetapi anda tidak dapat membunuh syetan yan selalu melakukan perlawan terhadap Anda, dan apabila ternyata syetan dapat membunuh dan mengalahkan Anda, maka Anda menjadi terjatuh dalam siksaan Tuhan.


.Sebagaimna disebutkan : “Barangsiapa yang kudanya terlepas dari tangannya dan lari meninggalkannya dalam medan pertempuran, maka kuda itu akan jatuh pada tangan orang-orang kafir yang menjadi musuh Anda. Tetapi ketika imannya yang terlepas dan lari meninggalkannya, maka Ia menjadi jatuh kedalam murka Tuhan Yang Maha Perkasa. Na’udzu billahi minhu. Ketika seseorang terjatuh dalam kekuasaan prang-orang kafir, maka tangannya tidak terbelenggu pada lehernya, kakinya itdak diikat, perutnya tidak sampai lapar dan tidak pula telanjang tubuhnya. Tetapi apabila seseorang terjatuh dalam kemurkaan Tuhan. Maka wajahnya menjadi hitam pekat, tangannya terbelenggu dengan rantai pada lehernya, kakinya diikat dengan tali-tali neraka, makanan dan minumannya api dan pakainnya pun juga dari api.”

Rujukan: terjemahan Kitab Mukaasyafatul Qulub  (sumber:www.parapejalan.blogspot.co.id)

Subscribe to receive free email updates: