Hikmah Ramadhan (VI): Menggapai Syafaat Al-Quran di Bulan Ramadhan

Kini kita telah berada di bulan yang berkah bulan Ramadhan. Hubungan antara Ramadhan dan al-Qur’an sangat kuat, ikatannya amat erat. Sebagaimana yang kita ketahui, al-Qur’an adalah kitab Allah subhanahu wata’ala yang abadi. Dengannya Allah subhanahu wata’ala mengeluarkan umat ini dari kegalapan menuju cahaya.

Sementara itu Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah memberi keterangan bahwa al-Qur’an memberi syafaat kepada orang yang ia tahan dari tidur malam. Barangsiapa yang membaca al-Qur’an dan bangun malam dengan membacanya, ia telah memenuhi hak al-Qur’an sehingga al-Qur’an akan memberinya syafaat.Adapun orang yang hidup bersama  -Qur’an (para pembaca dan penghafalnya), tetapi ia tidur darinya pada malam hari dan tidak mengamalkannya pada siang hari, maka al-Qur’an akan mengambil posisi bermusuhan dengannya dan akan menuntut hak-haknya yang telah ia abaikan.
Ibnu Rajab rahimahullah juga membawakan sebuah hadits:
“…Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam adalah manusia yang paling dermawan, sedangkan pada bulan Ramadhan, ketika Jibril menemuinya, beliau lebih dermawan lagi. Adapun Jibril selalu menemui beliau setiap malam pada bulan Ramadhan untuk mengajarinya al-Qur’an. Adalah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, ketika Jibril menemuinya, lebih dermawan dari angin yang berhembus” (HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan bahwa sunnah hukumnya jika kita mempelajari al-Qur’an di bulan Ramadhan dan berkumpul untuk mengkajinya, serta memperdengarkan bacaan al-Qur’an kepada yang lebih menguasai. Dalam hadits tersebut juga terdapat dalil bahwa mustahab hukumnya memperbanyak membaca al-Qur’an pada bulan Ramadhan.

Dalam hadits disebutkan bahwa mudaarasah (pembelajaran al-Qur’an) antara Jibril dan Nabi shallallahu’alaihi wasallam terjadi pada malam hari, hal itu menjadi dalil disunnahkan memperbanyak bacaan al-Qur’an pada malam hari. Sebab pada malam hari segala kesibukkan dunia mereda dan kehendak hati menjadi lebih terarah, sedangkan hati dan lisan juga lebih fokus untuk merenungkan al-Qur’an. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. al-Muzammil [73]: 6). Sementara itu baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,:“Barangsiapa yang membaca seratus ayat dalam satu malam, maka akan dicatat untuknya qiyamul-lail semalam penuh.” (HR. Ahmad,)

Mendukung  pendapat di atas, dalam hadist lain juga di sebutkan : “Pada hari kiamat Al-Qur’an akan datang  seraya berkata, “Wahai Rabbku, hiasilah ia.” Maka dikenakan mahkota kemuliaan kepadanya. Al-Qur’ân berkata lagi, ‘Wahai Rabbku, tambahkanlah kepadanya.’ Maka dipakaikan jubah kemuliaan kepadanya. Kemudian al-Qur’ân berkata lagi, “Wahai Rabbku, ridhailah ia.” Maka Allâh pun meridhainya. Lali dikatakan kepada orang itu, “Bacalah dan naiklah.” Dan akan ditambahkan setiap kebaikan dari satu ayat yang dibaca.” (HR. at-Tirmidzi)
Demikianlah, sekiranya umat ini memahami al-Qur’an yang mereka baca, mengetahui hak-haknya dan merasakan kelezatannya, niscaya rasa kantuk akan terbang meninggalkan mereka disebabkan kegembiraan atas karunia Allah subhanahu wata’ala yang mereka dapat.

Subscribe to receive free email updates: