Teungku Chik Di Pasi (III) : Batee Siprok dan Weng Tubee Berjalan

Sosok waliyullah  Syekh Abdussamad (Tgk Chik Di Pasi) saat kembali dari Mekkah, dan setelah beberapa tahun menetap di kampung kelahirannya, beliau pergi berkhalwat pada perguruan seorang Teungku Tapa di Gunung Geureudong, Kabupaten Aceh Tengah selama lebih kurang dua tahun. Setelah itu beliau kembali ke kampung dengan dibekali gurunya sebuah tongkat. Tongkat itu dapat digunakan untuk menggali tanah hanya dengan menggoreskanya pada tempat yang diinginkan. Beliau menjalani sisa hidupnya di kampung Waido dengan menurunkan pengetahuannya kepada murid-murid yang datang belajar padanya. Sampai sekarang masyarakat percaya bahwa Teungku Chik Di Pasi mendapat karamah dari Allah swt., selagi beliau masih hidup maupun sekarang. Makamnya di Ie Leubeue, Kecamatan Kembang Tanjung kira-kira 10 km di kota Beureuneun, sering diziarahi orang. Kepercayaan demikian antara lain terlihat pada potongan-potongan kain putih yang digantungkan pada makam (pupanji). Batu nisan dan makam juga diselubungi dengan kain putih.

Bagi masyarakat Pidie, Teungku Chik Di Pasi dipandang sebagai pemimpin pembangunan, pembebas rakyat dari ketidakberdayaan, dan pembimbing ke jalan kebenaran. Semasa hidup, beliau tidak bisa mentolerir sikap berpura-pura dari orang-orang yang dijumpainya. Prinsip hidupnya adalah amar makruf nahi munkar; membimbing umat kepada kebenaran dan mencegah mereka dari kemungkaran. Berulang kali masyarakat menyaksikan, bahwa dusta itu menghancurkan diri sendiri. Seseorang yang bersalah, tetapi tidak mau mengakui kesalahannya, kemudian mengangkat sumpah seraya diletakkan Quran tulisan tangan beliau di atas kepala sambil berdiri di atas sebuah batu bopeng (batee siprok), badannya terkoyak-koyak. Al-Qur’an tulisan tangan beliau dikenal dengan Seureubek. Sangat banyak karamah waliyullah tersebut dalam kehidupan sehari-hari yang tidak sempat di diceritakan dalam tulisan.

sumber foto: safari.com

Salah seorang penulis muda terkenal Zarkasyi Yusuf dalam karyanya "Kisah Hidup Aulia" menyebutkan beberapa karamah Teungku Chik Di Pasi. Diantaranya, beliau menceritakn bahwa pada suatu hari ketika beliau pulang menuju Waido, beliau singgah sebentar di kawasan gampong Blang kecamatan Simpang Tiga, karena merasa kehausan beliau meminta seteguk air tebu yang sedang diperas oleh salah seorang penduduk gampong Blang tersebut, persisnya di keude gampong Blang sekarang. Air tebu yang diperas warga tadi akan dimasak menjadi manisan, air tebu diperas dengan menggunakan weng teubee (alat peras) yang ditarik oleh kerbau. Tengku Chik menghampiri warga tersebut dan meminta sedikit air tebu yang diperasnya, orang tadi tidak mau memberikannya dengan alasan air tebunya mau dimasak untuk manisan dan bukan untuk diminum, mendengar jawaban tersebut Tengku Chik langsung bergegas pulang menuju Waido. Dalam perjalanan pulang beliau tanpa sengaja menoleh ke belakang, terlihat weng tubee tadi mengikutinya tanpa ditarik oleh kerbau, sungguh aneh! Melihat hal itu beliau berhenti dan berujar kepada weng teubee tersebut “alah hai meutuah, bek lee ka seutoet lon” (Wahai meutuah (sapaan mulia yang digunakan untuk menyapa) jangan engkau ikuti saya lagi). Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, weng teubee tadi berhenti dan Tengku Chik pun meneruskan perjalanannya pulang ke Waido. Weng teubee sekarang bisa dijumpai di kawasan antara gampong Blang dengan Waido. ( Zarkasyi Yusuf, Kisah Hidup Aulia, 2011)

Subscribe to receive free email updates: