Keutamaan Bulan Muharram

Salah satunya bulan yang mempunyai banyak kelebihan adalah bulan Muharram. Pada bulan ini termasuk bulan yang dimuliakan Allah SWT. Di balik kemulian itu hingga disebut dengan syahrullah(bulan Allah).
Kita mengetahui bahwa Muharram adalah bulan pertama dalam Sistem Takwim Hijrah (Hijriah). Pada asasnya, Muharram membawa maksud ‘diharamkan’ atau ‘dipantang’, iaitu bulan di mana Allah SWT melarang melakukan peperangan atau pertumpahan darah. Namun demikian larangan ini ditamatkan setelah pembukaan Makkah (QS Al-Baqarah: 91). Sejak pemansuhan itu, umat Islam boleh melaksanakan tugas dan ibadat harian tanpa terikat lagi dengan larangan berkenaan. Rasulullah SAW telah menamakan bulan Muharram sebagai ‘Bulan Allah’ (Shahrullahi).
Sandaran yang dilakukan oleh Baginda SAW kepada Allah SWT lantaran kemuliaan dan kelebihan bulan ini kerana sesungguhnya Allah SWT tidak merujukkan kepadaNya melainkan oleh golongan khawas (khusus) di kalangan makhluk-makhlukNya.
Berkata Al-Hassan Al-Basri rahimahullah: “Sesungguhnya Allah SWT telah membuka lembaran tahun baru di dalam takwim Islam dengan bulan Muharram. Tidaklah kedapatan bulan yang lebih mulia dalam takwim Islam di sisi Allah SWT itu selepas bulan Ramadhan melainkan bulan Muharram. Ianya dinamakan bulan Allah yang khas disebabkan besarnya kehormatannya.”
Bulan Muharram dikatakan mulia, ini disebabkan di dalamnya terdapat banyak amaliah sunah yang sangat dianjurkan untuk melakukannya. Diantara amalan sunah yang dimaksud ialah puasa. Tentunya tidak sedikit hadist yang menganjurkan untuk berpuasa di bulan yang mulia itu.
Salah satu sabda nabi yang menganjurkan untuk mengerjakan puasa di bulan Muharram tersebut didasarkan pada hadits riwayat Abu  Hurairah: "Seseorang datang menemui Rasulullah SAW, ia bertanya, ‘Setelah Ramadhan, puasa di bulan apa yang lebih afdhal?' Nabi menjawab, ‘Puasa di Bulan Allah, yaitu bulan yang kalian sebut dengan Muharram,” (HR Ibnu Majah). Dalam hadist yang lain juga disebutkan:“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram dan shalat yang paling utama setelah puasa wajib adalah sholat lail”    [HR. Muslim(11630) ]

Dalam perspektif Mulla Al Qari’ menyebutkan bahwa hadits di atas sebagai dalil anjuran berpuasa di seluruh hari bulan Muharram. Namun ada satu masalah yang kadang ditanyakan berkaitan dengan hadits ini yaitu, ‘Bagaimana memadukan antara hadits ini dengan hadits yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam memperbanyak puasa di bulan Sya’ban yang menjadi bulannya Allah, bukan di bulan Muharram? Imam Nawawi rahimahullah telah menjawab pertanyaan ini, beliau mengatakan boleh  jadi Rasulullah shallallohu alaihi wasallam belum mengetahui keutamaan puasa Muharram kecuali di akhir hayat beliau atau mungkin ada saja beberapa udzur yang menghalangi beliau untuk memperbanyak berpuasa di bulan Muharram seperti beliau mengadakan safar atau sakit
Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan sebagai berikut. “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan ialah puasa di bulan Allah, Muharram.” 
Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam An-Nawawi mengatakan, hadits ini menjadi dalil keutamaan puasa Muharram. Sementara hadits lain yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW lebih banyak berpuasa di bulan Sya’ban, bukan Muharram, dapat dipahami melalui dua tafsiran: pertama, ada kemungkinan Rasulullah SAW baru mengetahui keutamaan puasa Muharram di akhir hayatnya; kedua, Rasulullah SAW mungkin sudah memahami keutamaannya, namun beliau tidak memperbanyak puasa di bulan Muharram dikarenakan udzur, seperti sakit, sedang di perjalanan, dan lain-lain.
Al-Qurthubi, seperti yang dikutip As-Suyuthi dalam Ad-Dibaj ‘ala Shahih Muslim menjelaskan: “Puasa Muharram lebih utama dikarenakan awal tahun. Alangkah baiknya mengawali tahun baru dengan berpuasa, sebab puasa termasuk amalan yang paling utama.”
Memperbanyak puasa di bulan Muharram disunahkan karena ia merupakan pembuka tahun baru. Seyogianya tahun baru dihiasi dengan amal saleh dan puasa termasuk amalan yang paling utama. Tentu harapannya, di bulan selanjutnya, menjalankan ibadah puasa sunah ini tetap dilakukan dan tidak berhenti sampai akhir bulan Muharram. Selain awal tahun, dalam banyak hadits juga disebutkan bahwa tanggal 10 Muharram dianjurkan untuk berpuasa.
Sangat banyak literature kitab turast yang menyebutkan kebihan bulan Muharram, diantaranya seperti kata Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in, berbunyi “Bulan utama untuk berpuasa setelah Ramadhan adalah asyhurul hurum (bulan-bulan mulia). Sementara di antara asyhurul hurum itu bulan Muharram adalah yang paling utama, kemudian Rajab, Dzulhijah, Dzulqa’dah, Sya’ban, dan puasa ‘Arafah. (Syaikh Zainuddin Al-Malibari,Kitab Fathul Mu’in)


Subscribe to receive free email updates: