Shalat Dhuha Kunci Menjadi Hartawan, Benarkah?

Salah satu shalat sunat yang dianjurkan oleh Rasulullah Saw adalah shalat dhuha. Shalat ini dikenal sebagai ibadah untuk mempermudah pintu rezeki. Ibadah yang dikerjakan di waktu pagi ini sekitar matahari naik. Walaupun shalat ini sunat namun mempunyai hikmah yang sangat besar sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist qudsi :

” Allah SWT berfirman wahai anak Adam sekali-kali jangan kamu malas melakukan empat rakaat shalat dhuha, sebab dengan shalat itu, saya cukupkan kebutuhan kamu di waktu sore harinya.” (HR. Hakim dan Tabrani). Dalam hadist yang lain disebutkan sesorang bahwa yang mengerjakan  shalat dhuha akan diampunkan dosa walaupun kesalahannya laksana buih dilautan, berlandaskan hadist nabi berbunyi: 

“Seseorang masih berdiam diri dimesjid atau di mushallanya sesudah shalat subuh dan disebabkan ingin beriktikaf, berzikir dan mengerjakan dua rakaat sembahyang dhuha di iringi tidak berbicara sesuatu apapun melainkan kebaikan,maka segala dosanya akan diampunkan meskipun sebanyak buih di lautan” HR. Abu Daud).

Keistimewaan Shalat Dhuha
Bersedekah  itu tidak harus menghabiskan uang dan tenaga serta berbagai hal khusus lainnya, bahkan menghilangkan duri dijalan juga bersedekah, memberi senyuman kepada orang lainjuga sedekah dan berbagai hal positif lainnya yang berfaidah untuk kita dan juga orang lain. Rasulullah mengingatkan kita apabila berbagai kegiatan ibadah tidak sangggup, cukup dengan mengerjakan dua rakaat dhuha. Hal ini disebutkan dalam hadist berbunyi: 

”Dalam tubuh insan itu terdapat 360 ruas tulang. Dia harus disedekahkan untuk setiap sendi tersebut. Sahabat bertanya :”Siapa yang mampu melakukan itu wahai Rasulullah? Beliaupun memberi jawaban:”dahak dalam mesjid itu ditutupidengan tanah atau memindahkan  sebuah gangguan dari tengah jalani itu disebutkan sedekah atau seandainya tidak dapat mengerjakannya, cukuplah ditukarkan dengan melaksanaakan shalat dhuha.. (HR. Abu Daud dan  Imam Ahmad).

Pernyataan senada disebutkan oleh Allamah Syekh Muhammad bin Allan As-Siddiqi Asy-Syafi’I dalam Syarah kitab  Riadhus Salihin bahwa setiap perkataan yang baik termasuk zikir berupa tahmid, tasbih dan sejenisnya termasuk sedekah. Begitu juga semua kegiataan yang berorienttasi kepada amar ma’ruf nahi mungkarpun sedekah.namun kesemua itu akan mampu ditutupi oleh dua rakaat shalat dhuha.( Syekh Muhammad bin Allan As-Siddiqi, kitab Dalilul Falihin fi Turuqi Riadhus Salihin, juz III, hal. 627)

Shalat dhuha yang dikenal sebagai shalat pembuka keberkahan dan pintu rezeki sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist dari Uqbah  bin Amir, nabi bersabda: “ Sesungguhnay Allah SWT berfirman: wahai anak adam , kerjakanlah untuk saya, empat rakaat di permulaan siang , saya akan cukupi untuk diri engkau dengan sembahyang itu di akahir hari engkau” (HR. ahmad:17390). 


Dalam menginterpretasi  hadist diatas pada teks “….shalat empat  rakaat”, para ulama berbeda pandangannya, sehingga dapat disimpulkan kepada tiga qaul (pendapat). Pertama, shaalat 4rakaat merupakan shalat qabliyah subuh dan subuh. Kedua, empat rakaat itu shalat dhuha. Ketiga , shalat Isyrak yang dimaksudkan dalam pemahan shalat empat rakaat tersebut. Namun kebanyakan ulama,diantaranya seperti Syekh Ibnu Abdi Bar dan di perkuat argumennya oleh Mula Ali Al-Qari berpendapat shalat empat rakaat itu merupakan shalat dhuha. (Syekh Ali Al-Qari, Kitab Al-Mirqah: III: 980, Syekh Ibnu Abdi Bar, kitab Al-Istizdkar Fi Syarhi Madzahib’Ulama Al-Amshar:II:267).

Berdasarkan hadist diatas bahwa shalat empat rakaat tersebut akan di bukakan pintu rezeki bukan dalam tendensi keduniawaannya, kalau dikerjakan dengan semata-mata untuk memperlancarkan rezeki semata-mata,sia-sialah ibadah yang telah di kerjakan itu, maka untuk itu hendaklah shalat dhuha berlandaskan untuk  mengharap ridha ilahi.penekanan ini dapat dipahami dalam hadist dengan ungkapkan “kerjakan untuk saya empat rakaat”,disitu dapat di konklusikan bahwa keikhalasan menjadi modal utama untuk meraih apa yang telah dijanjikan Allah Swt itu. Keikhlasan bukan hanya berlaku untuk dhuha saja termasuk semua rangkaian ibadah baik vertical maupun horizontal

Waktu dan Jumlah Rakaat
Shalat dhuha ini dikerjakan ketika matahari naik sepenggalah sekitar jam 07.00Wib lewat atau tujuh hasta sejak terbit matahari. Batas akhirnya waktunya menjelang masuk waktu sembahyang dhuhur. Shalat dhuha minimal di kerjakan dengan dua rakaat, sedangkan maksimal 12 rakaat, ini menurut pendapat Imam Rafi’i dalam karyanya bernama kitab Syarah Shagir dan kitab al-Muharrar. Sedangkan menurut pendapat Imam Nawawi , dhuha minimal dua rakaat dan maksimalnya delapan rakaat sebagaimana diungkapkan dalam kitab syarah Al-Muhazzabi. Surat yang disunatkan dalam shalat dhuha pada rakaat pertama Asy-Syam dan rakaat kedua al-Lail.

Doa Khusus
Dianjurkan juga untuk berdoa setelah selesai dari shalat dhuha, berbunyi:
Allahumma innadh dhuahaa-a dhuhaauka, walbahaa-a, bahaauka,waljamaala jamaluka,wal quwwata quwwatuka, wal-qudrata qudratuka, wal-‘ishmata ‘ishmatuka, allahumma in kaana rizqii fissamaai fa anjilhu,wa in kaana fil ardhi fa akhrijhu, wa in kaana mu’asiran fa yassirhu. Wa innkana haraaman, fa thahirhu, wa in kaana ba’idhan fa qarribhu, bihaqqi dhuhaaika wa bahaaika wa jamaalika wa quwwatika, wa qudratika wa ‘ishmatika,’atinii maa ‘aataita’ibaadakas shalihin”


Selamat Mengerjakan Ibadah Dhuha Demi Menggapai Mardhatillah!!!

Subscribe to receive free email updates: