Kelebihan Hari Tasu'a ( 9 Muharram), Jangan Lupakan!

Bulan Muharram terus belalu, meninggalkan kita, Tidak terasa muharram sudah berjalan hampir menjelang sepuluh akhir awal pertama (1-10 Muharram). Namun yang menjadi pertanyaan kita, apakah kita telah memuliakan bulan yang terus berlalu meninggalkan awal sepuluh pertama? Malam ini  sudah memasuki malam Tasu’a (malam kesembilan) dan besok sudah sepuluh Muharram (*asyura).

Setidaknya dan minimalnya kita menyambutnya sisa sepertiga ini dengan berpuasa tasua dan asyura. Seperti kita ketahui bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram yang telah Allah muliakan. Secara khusus Allah melarangan berbuat zalim pada bulan ini untuk menunjukkan kehormatannya. Allah Ta’ala berfirman:

فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
 

“Maka janganlah engkau menganiaya diri engkau dalam bulan yang empat itu. 
” (QS. Al-Taubah: 36) 

Larangan berbuat zalim pada bulan-bulan ini menunjukkan bahwa dosanya lebih besar daripada dikerjakan pada bulan-bulan selainnya. Sebaliknya, amal kebaikan yang dikerjakan di dalamnya juga dilebihkan pahalanya. Salah satu amal shalih yang dianjurkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk dikerjakan pada bulan ini ibadah puasa sunat. Baginda menganjurkan untuk memperbanyak puasa di dalamnya.
 
A. Puasa Tasu’a (Sembilan Muharram) 

Imam al-Nawawi rahimahullaah menyebutkan tentang tiga hikmah dianjurkannya berpuasa hari Tasu’a:Tujuan disyariatkan puasa Tasu’a untuk menyelesihi orang Yahudi yang berpuasa hanya pada hari ke sepuluh. Tujuanyajuga adalah untuk menyambung puasa hari ‘Asyura dengan puasa di hari lainnya, sebagaimana dilarang berpuasa pada hari Jum’at saja. Pendapat ini disebutkan oleh al-Khathabi dan ulama-ulama lainnya.

foto: www. trentekno.com
t

Dalam hal untuk merespon kehati-hatian dalam pelaksanaan puasa ‘Asyura, dikhawatirkan hilal berkurang sehingga terjadi kesalahan dalam menetapkan hitungan, hari ke Sembilan dalam penanggalan sebenarnya sudah hari kesepuluh. Sedangkan alasan yang paling kuat disunnahkannya puasa hari Tasu’a adalah alasan pertama, yaitu untuk menyelisihi ahli kitab sebagaimana sabda baginda tentang puasa ‘Asyura, 

لَئِنْ عِشْتُ إلَى قَابِلٍ لاَصُومَنَّ التَّاسِعَ 

“Jika aku masih hidup di tahun depan, pasti akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim)

 
Sementara itu Syekh Ibnu Hajar dalam tulisannya terhadap hadits, “Jika aku masih hidup di tahun depan, pasti akan berpuasa pada hari kesembilan”, Keinginan beliau untuk berpuasa pada hari kesembilan dimaksudkan maknanya agar tidak membatasi pada hari itu saja. Tapi menggabungkannya dengan hari ke sepuluh, baik sebagai bentuk kehati-hatian ataupun untuk menyelisihi pengikut agama Yahudi dan Nashrani. Dan ini merupakan pendapat yang terkuat dan yang dikupas oleh sebagian riwayat Muslim.”

Subscribe to receive free email updates: