Keangungan Mazhab Imam Syafi'i (II)

Imam Syāfi’i belajar membaca Al-qur`an, kemudian setelah ia sudah dapat membaca Al-qur`an, ia pindah ke suatu desa yang banyak dihuni oleh orang arab yaitu desa Huzail, dan di desa inilah ia mendalami belajar bahasa Arab beserta sastranya.[1] Setelah merasa cukup dan menguasai bahasa Arab Imam Syāfi’i pindah ke Mekkah untuk memperluas wawasannya tentang keislaman, yaitu ia mempelajari ilmu tafsir, fiqh dan hadis pada guru-gurunya yang banyak, yang negerinya di antara satu dengan yang lain berjauhan. Guru-guru Imam Syāfi’i yang masyhur di antara lain di Mekah: Muslim ibn Khalid al-zanjī, Ismail ibn Qusthantein, Sofyan ibn Ujainah, Sa’ad ibn Abi Salim al-Qaddah, Daud ibn Abdurrahman al-Athar, Abdul Hamid ibn Abdul Azizi.[2]

Sebagai anak yang rajin dan tekun belajar, ia dalam usia muda sudah menguasai ilmu-ilmu yang diserap dari gurunya. Pada usia 20 tahun Imam Syāfi’i belum puas dengan ilmu yang diperoleh di Mekkah, akhirnya dirinya memutuskan untuk pindah ke Madinah dan belajar dengan guru-guru terkemuka.[3]Guru-guru Imam Syāfi’i di Madinah di antaranya adalah: Ibrahim ibn Mas’ud al-Anshāriī, Abd Al-Aziz ibn Muhammad al-Darurdī, Ibrahim ibn Abi Yahya al-Asāmī, Muhammad ibn Sa’ad, Abdullah ibn Nafi’, dan imam Mālik ibn Anas, Karena kecerdasannya yang tinggi akhirnya ia diangkat sebagai asistennya Imam Malik.[4]

Setelah ia memperdalam ilmu agama di Madinah, ia melanjutkan perjalanannya ke Irak untuk belajar dan berdiskusi dengan para ulama yang berada di Irak di antaranya adalah:[5] Wakī ibn Jarrah, Humad ibn Usamah, Ismail ibn Ulyah, Abdul Wahab ibn Abdul Majid, Muhammad ibn Hasan, Qadhi ibn Yusuf. Ia berada di Irak kurang lebih selama dua tahun untuk mempelajari fiqh Hanafi.[6]
Setelah ia banyak bergaul dan berdiskusi dengan para ulama, lalu ia kembali lagi ke Madinah dan bergabung kembali dengan kelompok pengajian Imam Malik selama lima tahun ia tinggal di Madinah, lalu ia mengembara ke negeri Yaman dan di kota itu ia diangkat sebagai kepala pemerintahan di Najran. Karena ia merasa tidak pantas dan tidak cocok menduduki jabatan tersebut lalu ia kembali lagi ke Mekkah dan tinggal di Mekkah selama tujuh belas tahun.[7]Guru-guru Imam Syāfi’i di Yaman di antaranya adalah: Mathrar ibn Mazir, Hisyam ibn Abi Yusuf Qadli Syam’a, Umar ibn Abi Salamah (pembangun mazhab al-Auza’ī, Yahya ibn Hasan (pembangun mazhab Leits).[8]

Pengembaraan yang dilakukan oleh Imam Syāfi’i dalam rangka untuk mencari arti hidup dan untuk menyempurnakan semua ajaran yang pernah diperoleh dari para ulama yang pernah mereka kumpuli dan pernah ia ajak berdiskusi. Dan pada puncak karirnya pada tahun 198 H ia pindah ke mesir dan banyak berdiskusi dengan para ulama yang pernah menjadi muridnya. Dan selama tinggal di Mesir ia merasa mantap dengan pandangan hukumnya dan mantap dengan mazhabnya yang baru.[9] Setelah ia mengembara sambil mencari ilmu ke Makkah, Madinah, Yaman, Irak dan Mesir, akhirnya ia meninggal di Mesir pada bulan Rajab Tahun 204 H.[10]



[1] Labib MZ-Drs. Farid Abdullah, Kisah Kehidupan Para Sufi Terkemuka…, h. 22.
[2] Siradjudin Abbas, Sejarah Dan Keagungan Madzhab  Syāfi’ī..., h. 19
[3] Labib MZ-Drs. Farid Abdullah, Kisah Kehidupan Para Sufi Terkemuka..., h. 2
[4] Siradjudin Abbas, Sejarah Dan Keagungan Madzhab  Syāfi’ī..., h. 153.
[5] Labib MZ-Drs. Farid Abdullah, Kisah Kehidupan Para Sufi Terkemuka…, h. 23.
[6] Siradjudin Abbas, Sejarah Dan Keagungan Madzhab  Syāfi’ī ..., h. 153.
[7] Labib MZ-Drs. Farid Abdullah, Kisah Kehidupan Para Sufi Terkemuka..., h. 23.
[8] Labib MZ-Drs. Farid Abdullah, Kisah Kehidupan Para Sufi Terkemuka..., h. 23.
[9] Labib MZ-Drs. Farid Abdullah, Kisah Kehidupan Para Sufi Terkemuka…, h. 24
[10] Labib MZ-Drs. Farid Abdullah, Kisah Kehidupan Para Sufi Terkemuka…, h. 26.

Subscribe to receive free email updates: