Israk Mikraj (I): Rasululah Israk Mikraj Dengan Roh?

Salah satu kejadian yang luar biasa yang pernah di alami oleh baginda nabi Muhammad Saw berupa peristiwa Isra’ Mi’raj ( perjalanan Rasulullah dari masjid al Haram ke masjid al Aqsha ) dan Mi’raj (naiknya Rasulullah ke Sidratul Muntaha ) yang terjadi berdasarkan sebuah pendapat terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun dua belas kenabian ( setahun sebelum Hijrah ) merupakan sebuah peristiwa metafisik dan salah satu mukjizat Rasulullah  yang benar nyata kejadiannya dan diabadikan oleh Allah dalam al-Qur'an  surat al-Isra’ ayat pertama dan surat al-Najm ayat 1-14, juga diceritakan melalui beberapa hadits Rasulullah yang shahih dan mutawatir, diriwayatkan tidak kurang dari 20 sahabat. Jadi, kita sebagai umat Rasulullah wajib mempercayainya, sebagaimana Sayidina Abu Bakar langsung mempercayainya setelah diceritakan oleh Rasulullah sehingga mendapat gelar ‘al Shiddiq’.
Kepercayaan dan keyakininan kita akan kejadian Isra’ Mi’raj menunjukkan kita termasuk mushaddiqin dan mukminin. Namun dalam beberapa hal memang ada yang masih dipertanyakan, diantaranya apakah Rasulullah Saw melakukan Isra’ Mi’raj dengan ruhnya saja atau ruh dan jasadnya? Menjawab fenomena ada beberapa pendapat ulama' :
Pertama, berdasarkan pendapat Muawiyah, ''Aisyah, al Hasan dan Ibnu Ishaq bahwa Rasulullah Isro’ Mi’raj hanya dengan “ruh”nya saja, sedangkan tubuhnya tetapi tubuhnya tetap di tempat tidur dan melalui mimpi, karena mimpi para nabi adalah haq. Pendapat ini berdasarkan al-Qur'an  surat al-Isra’ ayat : 60, “……. Dan tidak kami jadikan mimpi yang kami perlihatkan kepadamu kecuali sebagai fitnah ( cobaan ) kepada manusia ….“
Kedua, merujuk kepada pendapat jumhur ( mayoritas ) ulama' : bahwa Isra’ Mi’raj Rasulullah dengan “ruh dan jasad”. Dalam hal ini ada beberapa  alasan : pertama, Firman Allah “ Maha suci Allah yang menjalankan “abdihi”(hamba-Nya)…” Kata ‘abdihi’ mengandung arti ruh dan jasad, bukan hanya ruh saja. Jika yang dimaksud ruhnya saja niscaya disebutkan dengan ‘ruhihi’Kedua, berdasarkan dalam beberapa  hadits Nabi disebutkan dengan kisah pertemuan Rasulullah dengan kabilah Quraisy yang sedang pergi ke Palestina. Ketiga, Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah mukjizat. Kalau hanya dengan ruhnya saja banyak orang bisa melakukan, tentu tidak aneh lagi, sedangkan mukjizat adalah kejadian yang di luar kebiasaan manusia yang dianugerahan Allah kepada para nabi. Keempat,saat kejadian Isra’ Mi’raj Muawiyah masih kafir dan 'Aisyah masih kecil. Maka akurasi pendapat keduanya msih diragukan.

Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Isra’ Mi’raj Rasulullah Saw bukan mimpi dan juga bukan hanya dengan ruhnya saja, tetapi dalam keadaan sadar dengan jasad dan ruhnya karena ini mukjizat yang tidak mungkin ada orang yang bisa menirunya. Wallahul a’lam bisshawab

Referensi : kitab Tafsir al Qurthubi tentang surat al-Isra’ ayat : 1, kitab Al Syifa’ lil  Qodli ‘Iyadh,dan lainnya

Subscribe to receive free email updates: