Sang Arwah Kembali Ke Rumah Setiap Malam Jum'at,Benarkah?

Seseorang yang telah meninggal dunia, mereka telah terputus segala amalan, kecuali mendapatkan kiriman pahala dari orang-orang yang masih hidup, baik anaknya, cucu, suami, istri atau kerabat lainnya. Alangkah sedihnya seorang ayah yang telah pergi untuk selamanya, tetapi anak atau keluarganya tidak mengirim sepatah untaian zikir yang dihadiahkan untuk pahala almarhum. Sungguh sangat sedih mereka yang telah tiada itu, terlebih di malam Jumat sangat mengharapkan kiriman pahala itu untuk mereka.
Ilustrasi ini telah disampaikan Al-Imam Abdurrahim bin Ahmad al-Qadhi dalam kitabnya berjudul Daqa’iqul akhbar Fi Dzikri al Jannah Wan-Naar  (Berita-berita  mendetail tentang surga dan neraka). Bagaimana perjalanan dan pengembaraan sang arwah yang sangat sedih tanpa kiriman pahala dari anak dan keluarga serta mereka yang masih hidup.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Ketika seorang mukmin meninggal dunia, rohnya berputar mengelilingi rumahnya selama sebulan, dia melihat harta yang ditinggalkannya, bagaimana pembagian dan pembayaran utang-utangnya. Setelah genap sebulan, dia kembali pada kuburnya dan berputar-putar selama setahun, maka dilihatnya orang-orang yang mendoakannya dan orang-orang yang bersusah hati atas kepergiannya. Setelah genap setahun rohnya diangkat dan dikumpulkan dengan roh-roh yang lain sampai hari kiamat, yaitu hari ditiupnya sangkalala.
Dikatakan bahwa makna dari lafaz roh adalah anak cucu Adam, ada yang mengatakan bahwa roh adalah malaikat Jibril, dan ada yang mengatakan roh adalah roh Nabi Muhammad saw., yang berada di bawah Arasy dan memohon izin kepada Allah pada malam Lailatul Qadar untuk turun memberi salam kepada kaum mukmin laki-laki dan perempuan.
Ada juga yang mengatakan bahwa roh adalah para kerabat orang-orang yang mati, dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, izinkanlah kami turun ke rumah-rumah kami sehingga kami bisa melihat anak-anak kami dan keluarga kami."
Maka turunlah roh pada malam Lailatul Qadar sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas ra., ketika datang hari raya (Idul Fitri dan Idul Qurban), hari Asyura (10 Muharram), hari Jumat yang pertama pada bulan Rajab, malam Nishfu Sya'ban, malam Lailatul Qadar dan malam Jumat, roh-roh orang mati keluar dari kuburnya dan berhenti di depan pintu rumah-rumah mereka.
Dan mereka berkata kepada kerabat-kerabatnya: "Berbelaskasihanlah kalian pada malam yang penuh barakah ini dengan sedekah dan sesuap makanan (pada orang-orang yang membutuhkan), maka sesungguhnya kami sangat membutuhkannya, jika kamu bakhil dan tidak mampu bersedekah, maka ingatlah kami dengan membaca surat Al-Fatihah pada malam yang barakah ini. Apakah ada seseorang yang mengasihi kami, apakah ada orang yang ingat pengembaraan kami. Wahai orang-orang yang mendiami rumah, wahai orang-orang yang menikahi perempuan (istri) kami, wahai orang yang menempati gedung kami yang luas dan sekarang kami dalam kubur yang sempit, wahai orang yang membagi harta kami, wahai orang-orang yang mensia-siakan anak yatim kami, apakah salah seorang dari kalian tidak ingat akan pengembaraan kami, shahifah (buku catatan) kami yang telah ditutup dan buku-buku kalian yang masih terbuka, dan tidak ada bagi mayit secarik kainpun dalam liang lahad, maka janganlah kalian lupa secuil dari roti kalian dan doa kalian, sesungguhnya kami membutuhkan kalian selamanya. Jika si mayit menemukan shadaqah dan doa dari mereka, maka kembalilah dia dengang rasa senang dan gembira dan jika tidak mendapatkannya, maka kembalilah dia dengan kesusahan dan rasa kecewa dan dia merasa telah dilupakan”.
Terkait hal ini kita yang masih hidup harus mempersiapkan sedini mungkin bekal untuk masa setelah kematian terutama di alam barzah dan perjalanan selanjutnya hingga ke surga nantinya. Namun, kita saat ini masih hidup setidaknya tidak bosan untuk menghadiahkan pahala kepada orang yang kita sayangi dan cintai terutama orang tua jasmani (orang tua) dan orang tua rohani (guru).
Merekalah yang telah membesarkan dan melahirkan kita. Mereka juga telah mendidik kita untuk mengenal diri sendiri sebagai wujud mengenal sang Ilahi Rabbi. Semoga perjalanan Rajab kita semakin diberkahi.
Rujukan: Kitab Daqaiqul Akhbar, 



Subscribe to receive free email updates: