Teungku Chik Di Pasi (V): Guci Peninggalan Teungku Chik Di Pasi

Negeri Pedir atau Pidie menyimpan banyak sejarah paar ulama dan waliyullah yang tidak diangkat dan di gali oleh generasi selanjutnya. Dalam kabupaten Pidie (wilayah Pidie dan Pidie Jaya) di sejumlah kecamatan tersebut sangat banyak di temukan situs sejarah tersebut, sebagian ada yang masih terawatt dan dijaga oleh para ahli waris dan masyarakatjuga sebagian juga banyak juga yang diabaikan begitu saja,padahal itu kuburan waliyullah dan warisatul ambia.  


foto: safariku.com
Mayoritas kuburan (maqbarah) disana terdapat  ulama keramat. Sebut saja diantaranya seperti kuburan Teungku Chik Di Pasi di gampong Pasi Ileubeue, Kecamatan Kembang Tanjong, kuburan Teungku Chik Trueng Campli di Desa Ukee, Kecamatan Glumpang Baro, dan Teungku Chik Di Pucok Krueng Beuracan di Desa Gampong Mesjid, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya. Masih sangat banyak lainnya.

Masyarakat dalam semasa hidupnya dikenal sebagai Wali Allah yang memiliki kekuatan batin dan kearifan psikhologis dalam menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan dan tantangan alam, ini tidak satu pun tercatat sejarah hidupnya dalam bentuk tulisan. Selama ini orang hanya mengetahui riwayat hidup dan perjuangan mereka menegakkan moral keagamaan dan ilmu pengetahuan di tengah-tengah komunitasnya melalui mulut ke mulut.  Walaupun secara akademis cerita dari masyarakat yang bersumber dari mulut ke mulut, masih diragukan orisinilitas sejarahnya.  

Masjid Guci Rumpong

Syekh Abdussamad atau yang makruf dan popular dalam masyarakat di kenal dengan sebutan Teungku Chik Di Pasii. Salah satu diantara peninggalan beliau beruapa guci. Saat kita telusuri ke gampong Masjid kecamatan Peukan baro, disana terdapat dua buah Guci peninggalan zaman  dulu pada masa Syekh Abdussamad yang masih di jaga dan di urus oleh pengurus Masjid Guci Rumpong yang kebetulan dua Guci itu bertempat di masjid tersebut.
Di ceritakan bahwa dua guci yang terdapat di Masjid Guci Rumpong, kenapa dinamakan guci rumpong? Alkisah menurut sejarah mulut ke mulut, kedua guci itu mengalami pecah (rumpong). Hal itu terjadi karena kedua guci pernah saling berbenturan, sehingga pecah mulutnya. Sebab itulah dinamakan guci rumpong. Guci itu tempat menyimpan air dari sumur sejak ratusan tahun lalu. Jika habis, airnya ditambah lagi ke dalam guci. Sampai sekarang air dalam guci digunakan untuk membasuh muka, dan bila ada hajat memandikan seseorang, atau sebagai penyembuh orang sakit yaitu dengan cara meminum air dari guci tersebut. Masih diceritakan Said Samsul Bahri, meskipun kemarau, tapi air dari sumur untuk disimpan ke guci tetap ada. Itu bedanya. Pada faktanya, guci rumpong hingga kini dipercayai sebagai tempat orang melepas nazar (peulheueh kaoy). Dalam sejarahnya, kedua guci bisa membuktikan seseorang berkata atau berbuat benar atau salah. Bila salah atau bohong, maka yang bersangkutan akan lengket di sebuah guci. Menurut sejarahnya pula, dua guci tersebut berasal dari Siam (Thailand), hadiah Kerajaan Cina kepada Kerajaan Aceh masa itu. (Serambi Indonesia, 2017)

Kita berterima kasih kepada pengurus masjid disana yang masih merawat dengan baik peninggalan waliyullah itu. Masih banyak warisan Teungku Chik Di Pasi yang terdapat di Masjid itu dan terawat dengan baik.

Subscribe to receive free email updates: