Syekh Abdus Samad Al-Palimbani : Tokoh Ulama Tarekat Sammaniah, Khalwatiyyah dan Naqsyabandiah Indonesia

Syekh Abdus Samad al-Palimbani merupakan salah seorang ulama besar tasawuf Nusantara. Beliau  dilahirkan dari keluarga Ulama di tanah Sumatera, tepatnya negeri Palembang, Sumatera Selatan dan menjadi ulama besar pada masanya.. Ayahnya juga seorang ulama besar di negeri Palembang bernama Syekh Abdul Jalil bin Syekh Abdul Wahab, sedangkan Ibunda beliau bernama Raden Ranti. 

Dalam catatan sejarah Syekh Abdus Samad dilahirkan pada tahun 1704 Masehi atau bertepatan dengan tahun 1116 Hijriah.  Sebelum melanjutkan pendidikan agama ke tanah suci Mekkah, terlebih dahulu beliau belajar ditanah kelahirannya Palembang. Selama di Mekkah dan Madinah dalam rangka menuntut ilmu,belaiu berguru kepada beberapa ulama besar dan populer pada waktu itu, diantaranya Syekh MuhammadBin Abdul Karim As-Samani, Syekh Muhammad Sulaiman Al-Kurdi, Syekh Abdul Mun’im Ad-Damanhuri dan beberapa ulama besar lainnya. 

Berkat didikan ulama besar tersebut beliaupun menjadi ulama besar yang disegani dan sangat di kenal oleh banyak orang pada masa itu. Dalam bidang tasawuf khususnya tarekat Naqsyabandiah, Syekh Abdus Samad al-Palimbani berguru kepada Syekh Abdurrahman Al-Aydarus. Sedangkan dalam tarekat Khalwatiyyah dan Sammaniah beliau banyak di pengaruhi oleh sang gurunya bernama Syekh Muhammad Al-Samman. Singkat cerita setelah sekian lama di negeri Haramain tersebut, akhirnya belaiupun kembali ke Tanah Air untuk mengembangkan dan menyebarluaskan tarekat dan ilmu agama yang telah beliau kuasai. [1]

  
            Pebendaharaan dan keintelektualan ilmu yang di miliki oleh Syekh Abdus Samad A-Plimbani, beliau menjadi sosok ulama yang terkenal bukan hanya di Palembang bahkan Nusantara dan Asia Tenggara. Hal ini berbeda dengan beberapa ulama lain disebabkan tidak adanya catatan dan riwayat hidup yang jelas. Informasi tentang beliau dapat dilacak dalam banyak karya yang telah di hasilkan oleh Syekh Abdus Samad al-Plimbani sendiri, walaupun kehidupan beliau yang hidup relatif tidak lama, namun seakan-akan belaiu masih hidup lewat karya yang ditinggalkan. Keproduktifitasnya Syekh Abdus Samad lewat dunia tulisan yang terkenal bernama Sair As-Salikin. Kitab ini di selesaikan di waktu umur beliau telah menanjak sekitar 58 tahun dan tidak lama sesudah itu, beliaupun menghadap sang ilahi sekitar tahun 1203 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 1789 Masehi.[2]
            Diantara maha karya Syekh Abdus Samad yang banyak tersebar di Indonesia adalah Hidayat As-salikin fi Suluk Maslak al-Muttaqin dan kitab Sair As-Salikin. Kedua karya tersebut isinya sangat berkaitan dengan pemikiran Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali. Kedua kitab itu ditulis dalam bahasa Melayu-Indonesia untuk memudahkan masyarakat yang membaca dan mempelajarinya, Walaupun kitab Hidayat As-salikin merupakan alih bahasa dari karya Imam Al-Ghazali yang bernama Bidayah Al-Hidayah, namun beliau juga menambahkan beberapa ulasan dan tema lain yang tidak berasal dari kitab Imam Al-Ghazai tersebut. Beranjak dari itu, seharusnya kitab Hidayat Al-Salikin yang berbahasa Jawi tersebut lebih tepat didinamai adaptasi dari kitab Bidayah al-Hidayah. Sedangkan kitab Sair As-Salikin merupakan kumpulan kajian yang lebih spesifik dari kitab Hidayah As-Salikin. Kitab Sair As-Salikin menurut Syekh Abdus Samad merupakan terjemahan dari karya yang ditulis oleh saudara Imam Al-Ghazali sendiri bernama Syekh Ahmad bin Muhammad. Sedangkan kitabnya berjudul Lubab Ihya Ulumuddin.[3]
Misteri dimana belaiu dikuburkan dan meninggal,sampaisaatini ada tiga pendapat yang saling berbeda, pertama, menurut Muhammad Abdullah seorang penyair dari Malaysia bahwa Syekh Abdus Samad di kuburkan di Pattani Utara, Thailand tepatnya diantara kampung Sekom dengan Cenak daerah kawasan Tiba, sekitar tahun 1244H/1828 M.  Kedua, menurut Azyumardi Azra, belaiu menduga ada kesan kuat bahwa Syekh Al-Palimbani meninggal di Arabia. Ketiga, menurut M. Chatib Quzwain beliau di makamkan di tanah kelahirannya Palembang. Diantara karya belaiu lainnya adalah :
  1. Al-Urwatul Wutsqa Wa Silsiltu Waliyil Atqa
  2. Ratib Syekh Abdus Shamad Al-Palimbani
  3. Kitab Mi’raj (1201 H/1786 H)
  4. Anisul Muttaqien
  5. Arrisaltu Fi Kaifiyatir Ratib Lailatil Jum’ah, kitab berisi tentang wirid-wirid pada malam Jum’at
  6. Mulhiqun Fi Bayani Fawaidin Nafi’ah Fi Jihadi fi Sabilillah,kitab berisi hikmah dan faidah berjihad di jalan Allah (jihad fisabilillah)
  7. Dan lainnya.[4]                                      

Bila sahabat ingin menshare kembali artikel ini, jangan lupa disertakan link nya ya.. Terimakasih



[1] Ilyas Ahmad, Efektifitas Amalan Suluk Terhadap Pembentukan Akhlak, 2010, ,h. 19-20
[2] Taufik Abdullah dkk. Ensiklopedi Tematis Di Dunia Islam,  ( Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005), h. 129
[3] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, (Jakarta: Kencana, 2008), hal. 342.
[4] Waris Dajti,  Syekh Abdus Samad al-Palimbani, 2013

Subscribe to receive free email updates: