Problema Qadha Shalat Orang Meninggal

Dikalangan Syafiiyah terdapat perbedaan pendapat diantara ulama mengenai ketentuan qadha shalat orang yang telah meninggal :
a.       Sebagian Ulama menyatakan tidak wajib diqadha 
b.      Sebagian ulama memilih di qadha
c.       Sebagian ulama memilih diganti setiap satu shalat dengan satu MUD (62,5 gram) dalam kitab Referensi umat menyebutkan satu Mud (679,79 Gram), pendapat lain mengatakan (1 mod=864 gram), 

( فائدة ) من مات وعليه صلاة فلا قضاء ولا فدية وفي قول كجمع مجتهدين أنها تقضى عنه لخبر البخاري وغيره ومن ثم اختاره جمع من أئمتنا وفعل به السبكي عن بعض أقاربه ونقل ابن برهان عن القديم أنه يلزم الولي إن خلف تركة أن يصلى عنه كالصوم وفي وجه عليه كثيرون من أصحابنا أنه يطعم عن كل صلاة مدا وقال المحب الطبري يصل للميت كل عبادة تفعل واجبة أو مندوبة

FAEDAH :Barangsiapa meninggal dunia dan padanya terdapat kewajiban shalat maka tidak ada qadha dan bayar fidyah.Menurut segolongan para mujtahid sesungguhnya shalatnya juga diqadhai berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan lainnya karenanya segolongan imam cenderung memilih pendapat ini dan Imam Subky juga mengerjakannya untuk sebagian kerabat-kerabat beliau.Ibn Burhan menuqil dari qaul qadim wajib bagi wali bila mayit meninggalkan warisan untuk menshalati ats namanya seperti halnya puasa, sebagian ulama pengikut syafi’i memilih dengan mengganti setiap satu shalat satu mud.Syekh Muhib atThabry berkata “Akan sampai pada mayat setiap ibadah yang dikerjakan baik berupa ibadah wajib ataupun sunah” (I’aanah at-Thoolibiin I/24)

Pendapat dalam mazhab lain yang juga diikuti oleh sebagian para ulama Mazhab Syafii, shalat tersebut diqadha oleh para keluarga mayit. Pendapat ini berlandaskan kepada hadits Imam Bukhari dan imam hadist yang lain. Pendapat ini juga diikuti oleh beberapa kalangan ulama dari mazhab Syafii, bahkan Imam as-Subky mengerjakan shalat tersebut untuk para kerabat beliau yang telah meninggal dunia.

Berkenaan dengan pendapat ini Imam al-Qalyuby memberikan komentar, bahwa sebagian kalangan guru-guru beliau mengatakan bahwa ini amalan untuk diri sendiri maka dibolehkan mengikuti pendapat tersebut karena pendapat tersebut adalah muqabil dari pendapat Ashah.

Menurut pendapat yang lain, terhadap shalat yang tertinggal tersebut bisa digantikan dengan makanan dengan ukuran satu mod, Imam Sulaiman al-Kurdy mengatakan bahwa al-Khawarizmy pernah mengatakan bahwa; saya melihat di daerah khurasan para ulama dari kalangan Mazhab Syafii yang berfatwa dengan pendapat ini.
Dalam satu hadist Rasulullah bersabda:

ما الميت في القبر إلا كالغريق المتعوث ينتظر دعوة تلحقه من أب أو أم أو أخ أو صديق فإذا لحقته كانت أحب إليه من الدنيا و ما فيها

Tiada dari mayat dalam kubur kecuali bagaikan orang yang tenggelam yan meminta tolong, ia menunggu doa dari ayah, ibu, saudara dan kawannya. Maka apabila datang doa baginya hal tersebut lebih ia cintai daripada dunia dan isinya. (H.R. Imam Baihaqy)

Memberi fidiyah shalat untuk orang yang telah meninggal HANYALAH berharap semoga Allah ta`la dengan sifat kemurahanNya akan diberikan keringanan kepada mayat tersebut. Adapun bila memberi fidiyah dengan keyakinan pasti akan MENUTUPI shalat yang ditinggalkan didunia maka ini adalah pemahanan yang SALAH, apalagi bila ada keyakinan boleh saja kita meninggalkan shalat asalkan pada waktu meninggal shalat tersebut diganti dengan fidiyah berupa makanan pokok.


Mengenai fidiyah shalat dalam mazhab Syafii, menurut pendapat yang kuat tidak dianjurkan tetapi menurut pendapat yang lain, shalat tersebut boleh digantikan dengan membayar fidiyah berupa makanan pokok sebanyak 1 mod, walaupun ini adalah pendapat dhaif namun boleh diamalkan. Maka dalam hal ini masyarat yang ingin mengamalkan pendapat dhaif tersebut maka boleh saja sebagai usaha untuk menolong mayat, semoga Allah memberikan keringanan kepada mayat tersebut dan bagi pihak yang tidak ingin membayar fidiyah maka juga tidak mengapa dan tentu saja dengan tidak menyalahkan orang-orang yang ingin membayar fidiyah. INI JAUH LEBIH AMAN.
 Oleh: Tgk. Musthofa Abdussalam Syah

Referensi.
a.       Sayyid Abi Bakr Syatha, Fathul` Muin dan Hasyiah i`anatuth Thalibin jilid 2 hal 244 Cet. Haramain
b.      Sayyid Abi Bakr Syatha, Fathul Mu`in dan Hasyiah I`anatuth Thalibin jilid 2 hal 244 Cet. Haramain
c.       Ibnu Hajar al-Haitamy,Tuhfatul Muhtaj jilid 3 hal 482 Cet. Dar Fikr
d.      Syeikh Abdul Hamid asy-Syarwany, Hasyiah Syarwany jilid 3 hal 482 Cet. Dar Fikr
e.        Fiqh Islamy wa Adillatuh. Cet Dar fikr
f.       Hasyiah Qalyuby `ala Syarah Mahally jilid 2 hal 86 Cet. Dar Fikr


Subscribe to receive free email updates: