Kata "Dusta" Terdapat 283 Kali Dalam Al-Quran

Salah satu etika yang terpuji dalam Islam berupa kejujuran. Dalam melakukan etika kejujuran dalam Alqur’an bisa juga dilihat dari sejumlah ayat yang melarang dengan tegas untuk tidak melakukan dusta ( al-kidzb). Secara etimologis, kata al-kizab dipahami sebagai lawan ( al-sidq). Lafadz kadzaba dalam segala bentuknya terdapat sebanyak 283 buah di dalam Alqur’an. Ungkapan tentang berdusta dalam ayat-ayat yang sering ditujukan kepada orang kafir, karena ia tidak membenarkan wahyu Allah. Bahkan mereka sering pula membuat unggkapan tanding dalam rangka mendustakan ayat. Biasanya ayat tersebut didahului oleh kata Iftara sebelum ada kata al-kidzb.

Toshihiko Izutsu Mengemukakan, kita tak perlu heran bila menjumpai kata kidzb yakni kebohongan atau dusta yang disebut dalam Alqur’an sebagai dosa yang keji, dan merupakan salah satu sifat jahat paling mencolok dari seoarang kafir. Menurutnya, sikap ingkar terhadap Tuhan kelihatan dalam dua cara. Pertama, Ia menunjukkan perbuatan dusta secara terang-terangan dalam soal wahyu Allah. Kedua, mengambil bentuk sebagaimana mengatakan Tuhan berdusta. Untuk yang pertama dilambangkan dengan ungkapan iftira, dan yang kedua diungkapkan dengan takdzib. Sifat takdzib dari orang kafir sering pula diikuti oleh cacian dan penghinaan dari kaum yang betul-betul keras kepada dan menolak wahyu. Bahkan tidak pernah berhenti menertawakan ayat Alqur’an sebagai dongeng kuno. ( Toshihiko Izutsu, Konsep-konsep Etika Religius salam Qur’an, (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1993), h.116 )

Fenomena ini di singgung dalam surat .al-An’am, ayat 4-5 berbunyi:“Dan tidak ada suatu ayatpun dari ayat-ayat tuhan sampai kepada mereka itu, melainkan mereka selalu berpaling dari padanya (mendustakanya). Sesungguhnya mereka telah mendustakan yang hak (Alquran) tatkala sampai kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka ( kenyataan dari ) berita-berita yang selalu mereka perolok-olokan.” (QS. Al-An’am:4-5).

Dalam konteks komunikasi, berbohong merupakan sikap tercela, karena sangat berbahaya. Kebohongan dalam komunikasi akan menyesatkan masyarakat disebabkan telah menyerap informasi yang salah. Tentu komunikasi seperti ini menyalahi etik komunikasi dan ajaran Alquran. Sejalan dengan pendapat diatas, Al-Maraghiy mengemukakan bahwa ada di dunia ini sekelompok manusia yang mempergunakan suatu (pekerjaan) yang dapat menyebabkan dan  melalaikan manusia dari memperoleh berita yang bermanfaat dalam agamanya seperti (menyebarkan) khufarat, satire, hal-hal lucu, dan (hanya) royal bicara.

Sedangkan mereka yang menjadi inti dalam ayat ini adalah kebohongan cerita atau berita, yang dilansir oleh orang-orang yang mempunyai iktikat jelek dengan tujuan menyesatkan umat manusia. Allah menyediakan azab yang sangat hina bagi mereka yang mempunyai sifat seperti di atas. Dalam kanteks komunikasi, ayat ini dapat dijadikan petunjuk betapa berbahayanya jika informasi di sebaluaskan tanpa dasar-dasar kebenaran yang bertujuan menyesatkan publik.( Ahmad Mustafa Al-Maraghiy, Tafsir Al-Maraghy, (Beirut: Dar al-Fikr,1974),h.74).

Subscribe to receive free email updates: