Merangkul dan Berpelukan Dalam Islam

Dalam menjalani kehidupan keseharian dalam masyarakat, terkadang setelah sekian lama berpisah dan tidak bertemu, kerinduan diantara dua insan yang tidak lama bertemu akan menyimpan ribuan cerita dan kangen yang tiada dapat di ukur. Tidak sedikit pertemuan mereka kembali untuk melampiaskan semua itu dengan saling merangkul dan mencium satu sama lainnya sebagai wujud kerinduan yang lama terpendam. Lantas realita yang sering kita lihat ketika dua orang yang telah lama tidak bertemu atau orang yang dipandang lebih dalam agama, tentu saja saat bertemu mereka akan melakukan hal yang penuh kegembiraan, diantaranya merangkul diantara sesama dan tentunya bukan lawan jenis yang jelas agama telah melarangnya. Lantas bagaimana pandangan agama terhadap perbuatan tersebut, apakah memang di bolehkan?

Di sebutkan dalam litaratur sejarah bahwa salah seorang sahabat nabi Abu Bakar Ash-Siddiqpun dicium dan dipeluk oleh baginda nabi saw, juga kepada sahabat yang lainnya, padahal kedudukan rasulullah sangat jauh bila dibandingkan dengan para sahabat baikKhulafaur Rasyidin maupun lainnya. Sebuah pemandangan yang sangat mendidik untuk diteladani, hal ini gambarkan dalam hadist: “Sesungguhnya nabi saw mencium saidina Abu Bakar r.a selepas memeluknya di sisi saidina Ali r.a dan para sahabat r.a yang lainnya.”( hadist ini disebutkan oleh Ibnu A’bid Al-Anshari didalam kitabnya“Al-Majmu”.). Didalam hadist lainnya disebutkan juga:“Sesungguhnya nabi saw mencium Zaid bin Haritsah r.a ketika tiba di Madinah selepas memeluknya. (HR. Imam Turmuzi, no.2 732, beliau berkata: hadist ini merupakan Hasan Gharib). Sementara itu dalam kesempatan yang lainnya Rasulullah pun mencium diantara dua belah mata saudara beliau yang bernama Ja’far Bin Abi Thalib sebagaimana dinukilkan dalam sabda-Nya: ”Sesungguhya rasululah saw mencium sepupunnya saidina Ja’far bin Abi Thalib ra diantara kedua belah matanya”. (HR. Abu Daud dan Baihaqi, Syua’ib Al-Imam: 6:477).


Beranjak dari paparan diatas kita mengetahui bahwa baginda Rasulullah sebagai seorang yang suri tauladan ikutan umat, merangkul yang di lakukan oleh beliau menjadi sandaran dan pegangan kita untuk meledaninya dalam kehidupansehari-hari. Dalam keseharian tentunya dalam setiap kesempatan menyuguhkan prilaku dalam membangun sebuah komunkasi nonverbal untuk merealisasikan dakwah, salah satunya dengan memeluk atau merangkul sambil menciumnya, tentunya efektifitasnya akan melahirkan sikap sopan santun dan ketakdhiman (penghormatan) akan melahirkan kasih sayang dan akan menghilangkan sifat yang tidak terpuji seperti  dengki, iri dan lainnya sebagai jurang pemisah dan sumber malapetaka yang melanda manusia dimuka bumi ini, dengan cara ini akan memperkuat dakwah dan  ukhuwah islamiahuntuk menggapai kehidupan yang lebih baik.

Subscribe to receive free email updates: